Tahapan Reklamasi Penambangan Batubara


Penambangan batubara terbuka menyebabkan pembukaan lahan yang luas dan pemindahan lapisan batuan penutup (overburden) dalam jumlah yang besar. Oleh karenanya, reklamasi wajib dilaksanakan untuk:

1. Mengembalikan daerah bekas tambang ke kondisi yang aman, stabil, dan produktif.
2. Menyediakan tanah yang secara ekologi memiliki kegunaan produktif untuk masa depan.
Untuk memastikan bahwa tahapan reklamasi dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, ditetapkanlah spesifikasi rehabilitasi yang didukung oleh audit rehabilitasi yang ketat.

Tahapan Reklamasi
Di perusahaan batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC), kegiatan reklamasi terdiri atas tahapan sebagai berikut :
1. Perencanaan Reklamasi
Reklamasi merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap sekuen/tahapan penambangan. Oleh karenanya, perencanaan reklamasi menjadi terintegrasi dengan perencanaan tambang, baik jangka panjang maupun pendek. Perencanaan reklamasi jangka panjang merupakan perencanaan sampai berakhirnya masa tambang (life of mine). Masa tambang ini kemudian dijabarkan lebih terperinci ke dalam perencanaan lima dan satu tahunan. Perencanaan lebih terperinci per area rehabilitasi dan akses jalan ini dijabarkan dalam dump drainage rehabilitation (DDR).

2. Survei Keanekaragaman Hayati
Prosedur pengelolaan keanekaragaman hayati telah disusun untuk menjamin terlaksananya kegiatan ini. Tahapan ini mengharuskan dilaksanakannya survei flora dan fauna pada daerah rencana penambangan lima tahun ke depan sebagai dasar pengembangan jenis bibit di kebun pembibitan “nursery” dan pengembangan arboretum. Arboretum ini telah dikembangkan sejak 2006 di suatu daerah reklamasi bekas tambang di D2 Surya dengan luas 22 hektare.
Sementara itu, nursery memiliki koleksi bibit tanaman sebanyak 67 spesies. Di antara jumlah itu, ada 33 jenis yang merupakan spesies lokal yang banyak diperoleh dari hutan sekitar. Dari 33 jenis lokal tersebut, ada 9 spesies tanaman Dipterocarpaceae dan 15 spesies yang merupakan tanaman buah-buahan.

3. Pengelolaan Tanah
a. Pengelolaan tanah sebelum penambangan. Ini dilakukan dengan menggunakan alat dan kendaraan khusus untuk pemadatan agar benih-benih tanaman yang terdapat pada tanah tersebut bisa tumbuh lagi di daerah penyebaran. Lalu, tanah dipindahkan dan disebarkan kembali di daerah yang akan direhabilitasi atau disimpan untuk sementara.
b. Penimbunan sementara tanah. Penimbunan sementara ini dilakukan jika daerah yang akan direhabilitasi belum siap. Untuk menjaga kualitas tanah di tempat penimbunan, dilakukan penyebaran biji-biji tanaman.

4. Penyiapan Daerah Reklamasi
a. Pembangunan tempat penimbunan. Ini dilakukan di daerah bekas tambang atau daerah-daerah lain untuk penimbunan dengan memperhatikan aspek geoteknik dan lingkungan.
b. Penempatan batuan penutup di daerah bekas pit dan daerah penimbunan. Klasifikasi dan pemisahan batuan penutup dilakukan berdasarkan pada potensi penimbunan asam batuan, yaitu dengan analisis geokimia net acid generation (NAG) yang dilakukan di Laboratorium Lingkungan KPC. Berdasarkan tes NAG, batuan yang berpotensi menghasilkan asam (potential acid forming atau PAF) dilapisi oleh batuan yang tidak berpotensi menghasilkan asam (non-acid forming atau NAF). Hal ini sangat penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi pembentukan air asam batuan.

Tipe penutup timbunan di KPC adalah:
– DC01 (1 meter tanah liat dipadatkan 2 meter NAF tidak dipadatkan)
– DC02 (2 meter NAF dipadatkan 2 meter NAF tidak dipadatkan)
– DC03 (10-20 meter NAF tidak dipadatkan)

5. Pembentukan Lereng Bagian Luar
Pembentukan lereng bagian luar dengan menggunakan dozer. Penimbunan dilakukan dengan tinggi tiap tingkatan mencapai 10 meter dengan sudut kemiringan lereng maksimum 4 :1 dan panjang lereng 40 meter.

6. Penimbunan dan Penyebaran Topsoil
Topsoil sangat penting sebagai media tumbuh tanaman. Penyebaran topsoil pada timbunan final dilakukan dengan ketebalan 1 meter atau ditentukan sesuai persetujuan manager environment.

7. Penggaruan dan Pembuatan Saluran Air
– Penggaruan dilakukan tegak lurus arah kemiringan lereng untuk mencegah timbulnya erosi permukaan yang dapat melarutkan zat organik yang ada di dalam tanah
– Tata kelola air di areal rehabilitasi diperlukan untuk mengarahkan aliran ke tempat yang aman sesuai rencana, sehingga erosi lahan dapat dicegah
– Untuk mencegah terjadinya erosi lahan, bangunan pengendalian erosi sangat diperlukan, antara lain dengan contour drain dan drop structures

8. Penanaman dan Perawatan Tanaman
Kegiatan penanaman dan perawatan tanaman dilakukan oleh beberapa kontraktor lokal di bawah pengawasan supervisor reklamasi.

a. Penanaman. Penanaman di areal reklamasi dilaksanakan dalam tiga tahapan.
Tahap pertama: Penanaman tanaman penutup tanah (cover crop).
Tujuan: Pengendalian erosi unsur hara tanah, peningkatan kandungan organik tanah.
Tahap kedua: Penanaman tanaman pelindung dan buah-buahan.
Tujuan: Menciptakan iklim mikro yang stabil dan ketersediaan tanaman buah-buahan.
Tahap ketiga: Penanaman tanaman Dipterocarpaceae.
Tujuan: Menciptakan kembali ekosistem yang menyerupai hutan semula.
Komposisi jenis tumbuhan yang ditanam adalah 20-50 jenis dalam satu area yang meliputi: pionir 40%, primer 40%, dan wild life 20%.

b. Perawatan. Perawatan tanaman dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan ke-3, 6, dan 12 setelah penanaman. Kegiatan ini meliputi pemangkasan dahan, pembersihan gulma, penggemburan tanah, dan pemberian pupuk.

9. Pemantauan Rehabilitasi dalam Keanekaragaman Hayati
Program pemantauan daerah rehabilitasi KPC dibentuk untuk:
– Mengevaluasi perkembangan daerah rehabilitasi.
– Memastikan perkembangan daerah rehabilitasi mengarah pada terbentuknya kembali ekosistem yang secara fungsi dan struktur dapat memenuhi kriteria keberhasilan daerah rehabilitasi.

Kegiatan pemantauan tanaman meliputi:
– Pemantauan awal (initial monitoring): Dilakukan pada tanaman berumur 3, 6, 9, dan 12 bulan setelah penanaman.
– Pemantauan jangka panjang (long-term monitoring): Dilakukan pada tanaman berumur 3, 6, dan 12 tahun setelah penanaman.

Apabila ditemukan hasil yang tidak sesuai dengan kriteria keberhasilan, maka dilakukan tindakan-tindakan perbaikan seperti penumpukan dan tambal sulam.

Beberapa kegiatan monitoring lainnya meliputi:
– Monitoring fauna (insects, aves, mammals, reptiles)
– Studi perkembangan sifat fisik dan kimia tanah
– Produksi biomassa tegakan

 

Sumber : Forum RHLBT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s